Pria Marah-marah, Ini yang Harus Dilakukan Wanita

family row and  negative emotions burst
Foto Ilustrasi Flickr

Siapa saja tentu tak ingin marah-marah yang tak jelas, begitu juga dengan pria. Selain merugikan diri sendiri, juga merugikan orang yang berhadapan dengannya. Biasanya pelampiasan amarahnya itu adalah orang terdekatnya. Istrinya mungkin, atau siapapun wanita yang dekat dengannya.

Sifat yang satu ini adalah sifat yang buruk, orang yang hobi marah-marah pun sadar hal tersebut. Namun demikian, tak jarang pula seorang pria kalau emosinya sudah memuncak, tak perduli lagi dengan lingkungannya. Sungguh berbahaya memang.

Status sosialnya pun dicap buruk dengan makhluk sosial lainnya.

Yang pertama, jika seseorang itu marah-marah, terutama di depan umum, akan menjatuhkan martabatnya sendiri. Juga orang yang dimarahinya.

Dan kedua, seseorang yang suka marah-marah itu dihindari oleh kerabat, teman, kolega, dan orang-orang terdekat lainnya.

Pria yang suka marah-marah cenderung mengikuti pikirannya saja, dan mengabaikan perasaan hatinya. Namun, bukan berarti ia tak punya perasaan, hanya saja saat emosinya meledak, pikirannya membuas.

Nah, bagi wanita yang sering menjadi pelampiasan amarah tipe-tipe pria seperti ini harus bijak menghadapinya. Marahnya seorang pria jika dibantah ia akan semakin marah, dan malah tak kunjung selesai luapan emosinya. Maka ada baiknya seorang wanita itu cukup mengalah, dan bersabar menunggu amarah pria itu reda.

Jauh di hati yang terdalam, tipe pria-pria yang suka marah itu sebenarnya sesosok yang unik. Coba perhatikan orang-orang di sekitar, mungkin saja sore hari ia marah begitu besar. Eh, malamnya sudah tertawa lepas melupakan segalanya yang memantik emosinya sore tadi.

Dan perlu juga diketahui, pria pemarah mudah melupakan permasalahan. Itu artinya tidak pernah menyimpan dendam, sakit hati, perasaaan-perasaan lainnya yang mengganjal hatinya. Jadi, begitu ia marah, maka saat itu pula unek-unek di hatinya tumpah.

Ternyata ada baiknya juga orang-orang pemarah ini. Jika dinilai dari pandangan yang berbeda.

Ya, walaupun kita sudah tahu, sifat pemarah itu sungguh tidak baik. Dan juga sifat ini tak bisa dihilangkan, karena itu adalah sifat dasar manusia. Hanya saja ketika amarah sudah mulai memuncak, kita bisa mengontrolnya. Sekali lagi, mengontrolnya, bukan menghilangkannya.

Jadi, jika seorang wanita ingin menghendaki pasangannya tidak marah-marah lagi, ini kedengarannya lucu sekali. Hati wanita yang memang diciptakan dengan penuh perasaan, namun tidak selamanya menjadi cara yang ampuh menyelesaikan berbagai persoalan, terutama menghadapi kemarahannya pria.

Kalau dihadapi dengan perasaan saja, maka selama itu pula wanita menjadi bulan-bulanan kemarahan dari kaum berotot itu. Tentu saja, kaum wanita tidak menginginkannya, bukan?

Peranan seorang wanita dalam kehidupan pria tidak diragukan lagi. Kesabaran, kelembutan, kasih sayang, perhatian yang berlebihan, itu semua menjadikan pria lebih hidup lagi dalam hidupnya.

Lain halnya dalam kasus menghadapi pria yang sedang marah. Wanita dituntut untuk berlogika juga, dan menepiskan dulu perasaannya. Cari tahu apa penyebab si pria itu marah, selidiki kenapa hari-hari belakangan ini marahnya semakin buas saja, ini jika mengahadapi kasus yang cukup rumit.

Ada kalanya seorang pria itu saat dihimpit masalah, ia hanya diam, dan sulit sekali untuk menjelaskan kepada orang lain, termasuk orang-orang terdekatnya, termasuk juga istrinya. Kalaupun ia mencoba menerangkan apa permasalahannya, hanya segelintir orang saja yang bisa memahaminya.

Nah, pada saat-saat itulah, seorang pria bisa meledak-ledak marahnya.  Permasalahan yang berat, dan diusik dengan gangguan-gangguan  kecil mengantarkan seorang pria menjadi sesosok yang buas bin ganas. Bagaikan sepercik api yang disiram bensin, nyalanya semakin besar dan merambat kemana-mana. Permasalahan sama dengan api kecil. Dibiarkan berbahaya, sebab jika ada yang menyulutnya bisa menghabiskan apa saja yang ada di dekatnya.

Inilah tugas dari seorang wanita yang mau berpikir menghadapi pria yang sedang marah-marah. Jika sudah tahu dan paham apa permasalahan yang terjadi, semampunyalah untuk mencarikan solusi atau membantunya, namun jika tak mampu, dukung dan doakan permasalahannya agar cepat selesai.

Untuk kaum wanita, tak selamanya dalam menjalani persoalan itu hanya dengan hati saja, ada saatnya menggunakan akal pikiran. Sesulit apapun bagi wanita untuk mengedapankan pikirannya dalam bertindak, itu harus dicoba.

Saat pria marah-marah, terkadang tangisan wanita bukan meredam kemarahan pria.

Saat pria marah-marah, bisa jadi semakin marah jika wanita di depannya membalas ntuk membela diri.

Maka gunakanlah akal pikiran, bujuk dengan kecerdasan dalam kelembutan hakikatnya seorang wanita. Itulah yang diharapakan dari seorang pria yang suka marah-marah. Bukankah wanita diciptakan sebagai penyeimbang “panasnya” kaum adam?

Pria selalu merindukan sosok wanita yang cerdas, yang mampu membantunya saat akal sehatnya sudah buntu. Dan pria itu selain senang dengan kelembutan, juga kecerdasan, ketangkasan, dan kegesitan dari kaum wanita.

Sumber: Asmara In Jogja

Bingung Memulai Menulis Dari Mana? Ini Caranya!

Berbagai pertanyaan timbul dari adik-adik di media sosial, dan penduduk netizen lainnya, yang intinya sama, yaitu: bagaimana agar bisa menjadi penulis?

Sebuah pertanyaan yang itu-itu saja didengar oleh penulis, dan para penulis lainnya  yang aktiv dalam forum. Maka sang penulis pun menjawabnya dengan sederhana: menulislah dari yang kamu tahu, dan menulislah dari hati, juga pikiran.

Hanya sesederhana itu untuk memulai menulis. Tidak repot, atau juga harus jungkir-balik untuk memulainya. Namun begitu, banyak juga  yang gagal paham untuk melakukannya. Akibatnya, adik-adik tadi saling tatap dengan layar laptopnya.

Bingung mau menulis apa? Hehehe …

Kalau serius ingin jadi penulis, kata “penulis” itu dibenamkan di hati dan di kepala. Dalam keseharian tidak terlepas dari dunia menulis, dan juga mulailah menambahkan gelar nama penulis di depan nama kamu.

Misalnya nama kamu Laika Maya, saat kamu sudah terjun di dunia menulis, tambahkan namanya jadi seperti ini: Penulis Laika Maya. Selain itu, saat ada pengisian biodata, kamu cantumkan juga kata “penulis atau menulis”.

Agar supaya apa? Tentu saja itu untuk membuat kamu lebih percaya lagi dengan bidang/profesi yang kamu jalani. Dan baiknya lagi, saat kamu mulai merasa sudah menjadi seorang penulis, kebiasaan kamu pun berubah, setiap waktunya hanya berkutat di dunia literasi.

Dan ini adalah salah satu cara saya sendiri, saya selalu mencamtumkan “penulis” di depan nama, juga selalu mengisi jawaban “menulis” saat berbagai pertanyaan yang datang menyerbu saya. Padahal saya menunggu, bahkan tentu juga sangat senang, kalau ada seseorang menyebut saya penulis.

Tapi ya begitu, orang-orang memanggil saya penulis, bukan karena saya cantumkan nama saya besar-besara Penulis Asmara Dewo. Bukan .. bukan itu! Tapi, saat orang-orang mulai dan sudah membaca karya saya.

Berkarya dulu, baru disebut penulis.

Walaupun demikian, jauh-jauh hari sebelum karya dibaca, saya sudah mencamtumkan nama penulis di depan nama. Hingga akhirnya, orang-orang lain pun menyebutkan hal yang sama. Mengingat masa-masa itu, lucu juga mengenangnya. Penuh harap dipanggil “penulis”. Hehehe

Kembali lagi bagaimana cara memulai menulis.

Seperti yang sudah disinggung di atas, kamu bisa menulis dari hal yang paling sederhana, yaitu: menulislah apa yang kamu tahu. Kamu bisa menuliskan keseharian hidup kamu seperti buku diary. Isilah lembaran-lembaran kosong itu melalui apa saja yang membuat kamu senang dan tentu saja kamu tahu tentang itu semua.

Kamu juga bisa menulis puisi. Menulis puisi adalah cara memulai menulis yang sangat baik. Sebab, itu adalah ungkapan hati si penulis, saat si penulis sedang merasakan kesedihan yang begitu mendalam, atau juga penyesalan lahir-bathin, penulis tadi dengan menggebu-gebu menguraikan kata-kata dalam secarik puisi.

Nah, itu bisa kamu tiru. Kalau kebiasaan kamu adalah suka mengeluh kepada orang lain karena ada masalah, atau juga sering teriak-teriak tidak jelas, mulailah berkeluh dan teriaknya dalam tulisan. Tanpa kamu sadari kamu sudah berlatih menulis dengan benar. Juga merasakan kebahagiaan tersendiri karena sudah mandiri, tidak lagi mengeluh pada orang lain.

Agar kamu menulis dengan lancar, tidak buntu di tengah-tengah tulisan, dan dapat juga memengaruhi pembaca, sehingga menimbulkan emosional pembaca, menulislah dari hati. Sama halnya jika kamu berbicara pada orang lain, jika kamu hanya berbicara tanpa landasan perasaan, orang yang mendengarnya hanya berlalu saja. Lain halnya jika didasari perasaan, itu akan membuat orang lain mendengarnya tersentuh.

Selain menulis dengan hati, kamu juga dituntut untuk selalu mengubah pola pikir yang semakin baik. Ini berkaitan dengan kecerdasan, pengetahuan, wawasan, dan ketajaman berpikir. Dan semua ini akan kamu dapatkan sendiri, seiring dengan setiap karya yang kamu tulis.

Satu hal yang tidak bisa kamu tawar untuk membentuk pola pikir dalam menulis adalah membaca. Membaca adalah harga mati bagi penulis. Kuburkan dalam-dalam mimpi besar kamu ingin menjadi penulis, kalau kamu tidak mau dan suka membaca.

Jika sekarang tidak suka membaca, namun ingin menjadi penulis, mulailah cari bacaan atau buku yang paling kamu senangi. Lambat laun, kamu akan menyukai kegiatan membaca, dan kamu akan terkejut sendiri, kamu menjadi orang yang paling rakus terhadap bacaan atau buku.

Nah, setelah semua ini kamu lakukan, tidak serta merta bulan depan kamu menjadi seorang penulis. Butuh berbulan-bulan, atau bertahun-tahun untuk menjadi seorang penulis. Itu ditandai dari setiap karya yang kamu lahirkan.

Maka dari itu juga, kamu memang haru rajin sekali menulis, setiap hari kamu harus menulis. Yang jelas, tiada hari tanpa menulis. Karena proses menjadi seorang penulis itu membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Dalam setiap karya yang ditulis, maka semakin bertambahlah skill cara penulisan yang lebih baik lagi.

Menulis lalu membaca, membaca lalu menulis. Begitulah kamu setiap waktunya, dan tentu saja kesehatan tetap dijaga, agar selalu prima. Tulisan yang sehat, tulisan yang mampu memotivasi dan menginspirasi itu dikarang oleh penulis yang sehat. Sehat jasmani, juga sehat rohani.

Jika kamu membaca artikel ini, dan kamu lakukan mulai sekarang, juga diterapakan dalam sehari-hari, lusa nanti kamu akan tersenyum. Kamu akan terkenang, dan mengingat-ingat si penulis artikel ini. Karena semua penulis mempunyai cerita perjalanan yang tidak jauh beda. Selalu disulut api semangat menulis oleh pendahulunya.

Dan jika suatu hari nanti kamu sudah menjadi seorang penulis, kamu juga mempunyai kewajiban untuk menuliskan artikel yang mampu melahirkan calon-calon penulis andal. Ada suatu peraturan yang tak tertulis bagi setiap penulis, yaitu seorang penulis harus menahirkan seribu menulis.

Nah, begitu juga dengan saya, tentu tidak mengingkari janji tak tertulis tersebut. Karena itu adalah kesadaran bagi sang penulis sendiri. Kesadaran bagi penulis dari mana ia muncul ke permukaan publik. Belajar otodidak? Belajar di kelas? Atau belajar dari gerombolan penulis yang tergabung dalam satu cita-cita? Ya, semua itu kembali pada sang penulis dan kesadarannya.

Sumber: Asmara In Jogja

7 Hal yang Membahagiakan Liburan Kamu di Rumah

56a451150a2df
Foto Ilustrasi Flickr

Liburan hal yang sangat dinantikan oleh setiap orang, tak terkecuali sahabat muda. Yang mana waktu liburan itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Namun, tidak setiap orang bisa menikmati liburan di luar rumah. Dari faktor eksternal sampai faktor internal membuat liburan seseorang hanya bisa dilewati di rumah saja.

Liburan yang gagal karena faktor eksternal bisa jadi karena: cuaca buruk, perubahan jadwal agenda, batalnya liburan, ada yang tidak bisa ikut, dan berbagai faktor lainnya di luar kuasa kamu.

Dan gagal liburan faktor internal, karena sesuatu yang terjadi pada kamu sendiri, misalnya: mendadak sakit, tiba-tiba tidak mendapat izin orangtua, management keuangan liburan yang salah, mendadak berubah bad mood, dan lain sebagainya.

Nah, untuk tidak melewati hari libur  yang sia-sia berlalu begitu saja, banyak berbagai cara yang bisa dilakukan  saat liburan di rumah. Selain menyenangkan, juga bisa bermanfaat untuk orang lain.

Berikut cara mengisi liburan di rumah yang menyenangkan:

1. Mendekorasi Kamar

Mendekorasi kamar mungkin cukup asing bagi kamu yang tidak biasa melakukannya. Tapi bagi yang sudah biasa tentu saja ini suatu kegiatan yang dilakukannya berulang-ulang.

Kamar yang bersih, rapi, nyaman, dan mempunyai seni, tentu tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang tidak mempunyai hobi dekorasi. Padahal, kalau kamu mempunyai seni bisa dituangkan untuk memperindah kamar kamu.

Waktu liburan di rumah, kamu bisa mendekorasi kamar sesuai selera. Bila kamu adalah seorang perempuan, kamu bisa menghiasi dinding-dinding kamar dengan motif bunga atau boneka. Dan temukan ide-ide cemerlang lainnya untuk mendekorasi kamar kamu sendiri.

Bentuklah kamar kamu yang indah dan nyaman, jadikan istana yang membuat kamu betah untuk selalu berada di kamar.

2. Menanam Bunga atau Pohon

Liburan menanam bunga atau pohon itu sungguh menyenangkan. Selain memperindah rumah, kamu juga turut menjadi penduduk bumi yang menjaga kesehatan dan kelestarian alam.

Kalau kamu cewek sepatutnya suka dengan bunga, dan menjadikan kegiatan menanam bunga setiap minggunya. Bukankah bunga itu lambang dari seorang wanita? Apa jadinya kalau cewek tidak suka bunga?

Perlu diketahui pula, kegiatan ini bukan hanya untuk kaum cewek saja, bagi kamu yang cowok juga baik dalam kegiatan menanam bunga.

Lalu bagaimana jika suka bunga, tapi tidak suka menanamnya. Kalau tidak suka, mulailah menyukainya, cobalah tanam bunga kesukaanmu kamu, dan rawatlah selalu, sampai kuntum-kuntum bunganya mulai merekah.

Jika masanya sudah berbunga, kamu akan sangat senang, juga ada kepuasan tersendiri, karena sudah menumbuhkan tumbuhan yang begitu indah.

Selain menanam bunga di pekarangan rumah, kamu juga bisa menanam pohon. Pohon itu sangat berguna untuk mencegah polusi udara. Apalagi rumah kamu di kota, polusi udara yang kotor mengganggu kesehatan dan ketidaknyamanan alam sekitar.

Kesempatan liburan di rumah, ini bisa kamu habiskan dengan menanam bunga atau pohon. Jika kamu mulai saat ini, maka kamu sudah tercatat menjadi penduduk bumi yang menjaga dan melestarikan keberlangsungan makhluk hidup.

3. Memasak

Memasak adalah kebiasaan yang memang patut bisa dilakukan. Tidak selamanya kamu harus mengandalkan orangtua untuk menyajikan setiap makanan di depan kamu.

Kalau kamu tidak tinggal dengan orangtua, misalnya indekos, memasak berarti suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, makan di luar itu cukup boros, dan itu mengurangi uang saku setiap harinya.

Pada saat liburan adalah waku yang tepat bagi kamu untuk belajar memasak atau mencoba resep baru. Memasak sangat berkaitan dengan bangsa cewek, kalau kamu cewek tidak bisa memasak, maka siap-siaplah suatu hari nanti diejek suami kamu.

Cowok juga tidak ada salahnya belajar memasak, karena ada pada masanya kamu harus terampil memasak menggantikan istri di dapur.

4. Menyalurkan Hobi atau Bakat

Kebiasaan ini dimiliki oleh orang-orang yang memang kesehariannya tidak terlepas dari hobinya, misalnya: membaca, menulis, menggambar, melukis, menjahit, dan lain-lain.

Pada saat liburan sekarang, kamu bisa lebih menggali lagi potensi yang ada. Kamu tidak akan pernah tahu suatu hari nanti berprofesi sebagai apa? Jika sekarang sudah mempunyai bakat, bisa jadi itulah profesi kamu di masa depan.

Jika teman-teman kamu melakukan liburan di luar, kamu bisa menghasilkan sebuah karya di rumah. Dan itu pada waktu  liburan di rumah, bukankah itu hebat, sahabat muda?

5. Camping di Rumah

Bagi yang hobi berpetualang, atau kegiatan out door lainnya, kegiatan ini sudah menyatu pada dirinya. Memang alam selalu mengundang manusia untuk memeluknya, keindahannya menghipnotis bagi siapa saja yang mulai mendekatinya.

Dan saat teman-teman kamu mengisi liburannya di alam bebas, sementara kamu tidak bisa ikut, kamu bisa camping di halaman rumah atau di belakang rumah.

Apalagi di rumah kamu itu banyak pepohonannya, itu akan menambah keseruan lagi saat camping di rumah. Kamu bisa melakukan kegiatan ini dengan cara mengajak  teman-teman kamu, atau juga melakukannya dengan anggota keluarga saja.

Mengitari api unggun dan memanggang daging kesukaan kamu saat bulan cerah bertabur bintang, lalu tidur pulas di tenda. Bukankah nuansanya tidak jauh berbeda dengan teman-teman kamu yang di luar sana?

6. Berfilsafat di Kamar

Yang satu ini cukup unik, dan juga sangat asing tentunya bagi teman-teman yang tidak biasa dengan dunia filsafat. Namun begitu, bukan berarti kamu tidak bisa mencobanya, karena ilmu filsafat ini sangat penting saat kamu sudah mulai matang dalam kehidupan.

Menjadi seorang filsuf ini sangat langka, terutama di Indonesia sendiri. Orang awam mengatakan berfilsafat itu hanya-orang yang mempunyai kecerdasan di luar batas manusia umumya, nalar yang kuat, juga imajinasi tingkat tinggi.

Memang ada benarnya, tapi  bukan berarti kamu tidak bisa berfilsafat dan menuangkan buah hasil pemikiran kamu sendiri. Setiap orang bisa berfilsafat dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Kita tidak tahu suatu hari nanti, jika kita mempunyai konsep sekarang, di kemudian hari konsep yang kita tulis bisa berguna untuk masyarakat, negara, bahkan juga agama.

Nah, saat liburan ini kamu bisa mencari gagasan-gagasan yang baru di kamar, guna untuk kepentingan orang banyak, dan yang pastinya untuk kamu sendiri.

7. Bersama Orangtua dan Keluarga

Jika kamu adalah orang yang super sibuk, enam hari dihabiskan dengan aktivitas tanpa  jeda. Pada saat kamu libur ini adalah waktu yang sangat tepat untuk berkumpul dengan keluarga.

Sekalipun kamu adalah orang yang sukses  dalam karir, atau juga betapa kaya rayanya harta kamu dalam bisnis, namun jika tidak dekat dengan orangtua itu akan terasa hambar dalam hidup.

Harus diingat, kamu sukses dalam karir dan bisnis, itu tidak terlepas dari doa-doa dan dukungan orangtua dan keluarga. Kamu tidak boleh melupakan itu! Walaupun tidak terlibat secara langsung dalam  aktivitas kamu dalam keseharian.

Nah, saat liburan ini kamu bisa menghabiskan waktu liburan bersama mereka. Terutama orangtua kita yang sudah mulai menua, beliau tentunya sangat merindukan untuk kumpul keluarga seperti saat kamu masih kecil.

Tak ada kebahagiaan yang bisa mengalahkan kebahagiaan bersama orangtua dan keluarga, sekalipun  kaki kamu sejauh melangkah ke sudut dunia sekalipun. Jadi, gunakanlah liburan hari ini bersama mereka.

Sumber: Asmara In Jogja

5 Tanda-tanda Wanita Butuh Perhatian

Membicarakan makhluk Tuhan yang paling unik ini memang tidak ada habis-habisnya, selalu ada yang menarik dari perangainya. Apa dan siapa lagi kalau bukan seorang wanita? Sepertinya dunia wanita memang tak ada habisnya untuk diceritakan, dibagikan, dan tentu saja untuk kebaikan bangsa wanita itu sendiri. Karena bangsa pria sendiri terkadang tak bisa paham menghadapi tindak-tanduk kaum pemdamping hidupnya itu.

Nah, kali ini ada yang menarik untuk kita ulas. Seperti sepenggal judulnya “Wanita Butuh Perhatian”, fakta ini sepertinya tak bisa terbantahkan lagi. Kaum hawa ini boleh dibilang haus akan perhatian dari seorang pria. Sifatnya yang tiba-tiba berubah “ekstrem”, atau juga suka marah-marah tak jelas, dan mendiamkan pasangannya begitu lama dengan wajah angker, semua itu tanpa penyebab yang jelas.

Bisa jadi, bagi Anda (pria) saatnya menukil perasaanya yang terdalam. Harus diketahui pula, wanita yang biasanya seperti pria pun, bisa bekerja gagah layaknya bangsa pria, mereka juga butuh perhatian. Jangan dikira pula karena sifatnya yang agak “kelelakian” tidak butuh perhatian dari orang yang disayanginya.

Karena itu pula, mari kita lihat tanda-tanda bangsa wanita ingin “sekali” diperhatikan:

1.Diam seribu bahasa. Ini nih, yang buat bangsa pria jadi salah tingkah menyikapi pasangannya. Tak ada masalah, tak ada ujian kehidupan yang melanda, air kehidupan pun mengalir seperti biasa. Eh, tiba-tiba mematung. Maksudnya apa coba? Diajak komunikasi dijawab dengan bahasa isyarat. Memangnya lagi privat bahasa tunawicara apa?

2. Memasang wajah angker. Wisshhh … seram amat. Iya memang begitu makhluk berambut panjang itu kalau ada perasaanya yang mengganjal di hati. Tidak mau berbicara dan memasang wajah angker. Nah, lucunya seketika saja bisa senyum sumringah ditambah gelak tawa pula kalau ada karib wanitanya mengajak merumpi. Kan ini lucu sekali, ya?

3. Ketus dan cuek. Kebayang nggak, waktu Anda sedang bertanya sesuatu, dia jawab ketus dan ditunjuk dengan cibiran mulutnya pula. Aduh, menyesal banget deh sudah bertanya. Selain marah, tentu saja bikin gemes bin geram, kan?

4. Marahnya meledak-ledak. Wah, ini lebih ekstrem lagi, seperti menyulut perang dunia ke-3 saja. Tapi memang begitulah wanita. Diladeni marahnya semakin menjadi-jadi, tidak diladeni juga marah. Loh, terus apa maunya? Lagi-lagi bangsa pria tujuh keliling pusing menghadapi  “kemisteriusan” seorang wanita.

5. Berubah menjadi orang asing. Kali ini kedengarannya seperti di film Star Wars. Seketika saja wanita yang amat Anda cintai, sehidup-semati. Cek ileeee, mendadak jadi “makhluk alien”. Ia tidak lagi perduli seperti biasa, tidak ada ramah-tamah, bermanja ria, atau juga bersenda gurau. Kalau ditegur, jawabnya hanya begini: Hmmm … Ditanya lagi, jawabnya begini lagi: Hmm … hmm … arrrhhh. Apa nggak seperti makhluk angkasa luar kalau begitu?

Untuk itulah saudara sebangsa kaum pria, kita meski menelisik kembali sosok misterius bernama wanita itu. Jangan didiamkan berlaru-larut saat menyikapi problema keluarga. Apa lagi yang baru nikah nih. Lima tanda-tanda di atas jadikan rujukan menjawab teka-teki dunia wanita yang sedang butuh perhatian. Ya … ya, memang benar seorang pria tak suka berlebihan, namun wanita juga butuh perhatian.

Bukankah kita sudah tahu, makhluk wanita itu penuh dengan kelembutan, diciptakan dengan segala keindahan dan keunikannya. Beda sekali dengan pria. Jika tidak mau tahu dan tidak mau mempelajari tindak-tanduk wanita, bahtera rumah tangga Anda tidak berjalan mulus. Tentu saja itu bukan harapan kita, bukan?

Kebaikan, perhatian, kasih sayang, keunikan, rasa empati, dan segala nilai positif wanita bisa terkikis, atau juga raib sekekita. Jika pria sendiri tidak bisa memahami karakter wanita yang sebenarnya. Jangan sampai pasangan Anda mulai melawan arus. Kepemimpinan dan kewibawaan pria juga dijaga dari perhatiannya terhadap pasanganya, yaitu bangsa wanita.

Sumber: Asmara In Jogja

Jadilah Penulis Profesional, Bukan Jadi Penulis Abal-abal!

Sering kali  pembaca terkagum-kagum atas hasil karya penulis yang baru saja dibaca. Sebuah karya yang mampu menerobos hati dan  pikiran pembaca, teringat selalu, dan membekas di hati. Kenapa bisa demikian?

Tentu saja sang penulis bukan asal-asalan menghasilkan sebuah karya. Ia membutuhkan imajinasi tingkat tinggi, selain itu juga mempunyai pemahaman hidup yang tidak dimiliki orang lain, dan didukung dengan cara penulisan yang apik. Maka, sempurnalah sebuah karya untuk dinikmati pembaca.

Lalu bagaimana dengan penulis abal-abal, penulis asal-asalan, atau juga penulis amatir. Penulis abal-abal  cenderung meniru karya orang lain. Tidak percaya diri atas karyanya. Akibatnya selalu betah mengekor dengan penulis yang sudah punya nama, atau disebut juga penulis professional.

Memang tak bisa dipungkiri, penulis pemula ingin sekali cepat terkenal, ingin sekali mempunyai pembaca yang banyak, bahkan juga penulis pemula ingin cepat sukses dalam profesinya sebagai penulis. Namun, terkadang jalan yang ditempuh keliru. Dia menganggap penulis yang sudah punya nama langsung menjadi penulis yang dikenal   di publik. Padahal jelas tidak, itu sungguh keliru.

Semua penulis profesioanl mempunyai kisah getir dalam titi perjalanannya selama menggeluti dunia literasi. Penulis yang sudah sukses juga jatuh bangun dalam perjuangan  untuk mengantarkan karyanya di depan publik. Susah dan senang sudah ditelannya jauh-jauh hari sebelum pembaca mengenalnya.

Nah, sekarang adalah tugas-tugas penulis pemula yang menyusul karya-karyanya di depan publik. Sebuah tugas yang bukan enteng yang pastinya. Ini cukup berat, tapi bukan berarti tidak bisa. Dibutuhkan ekstra kerja keras, dilatih terus-menerus, dan selalu menampilkan karya itu di depan publik.

Perlu diketahui juga, penulis itu tidak ubahnya seperti seorang pedagang. Kalau pedagang menawarkan barang-barangnya kepada pembeli di pasar, ataupun di mana saja. Nah, kalau penulis, menawarkan karya-karyanya agar bisa dibaca kepada publik. Di sinilah keuntungan si penulis jika karyanya sudah banyak pembacanya, sudah dinantikan oleh pembaca atas karya-karyanya yang baru.

Agar pembaca tidak pernah bosan dan selalu mencintai karya penulis. Tugas penulis pun semakin berat lagi. Perlu diingat-ingat bagi penulis, terutama penulis pemula, semakin banyak pembaca itu artinya semakin gigihlah dalam berkarya. Mulai dari membaca karya-karya yang bermutu, sampai memperbaharui lagi cara penulisan dengan baik. Juga selalu dekat dengan pembaca.

Dan ini terkadang tidak dimiliki oleh penulis abal-abal, maupun penulis professional. Sang penulis harus sadar, pembaca adalah manusia, ia hidup. Selain membaca karya-karya si penulis, terkadang pembaca juga ingin tahu si penulis, bahkan juga, sesekali ingin mengobrol secara langsung dengan penulis.

Betapa  pun mahsyur si penulis, jika dilabeli penulis sombong dengan pembaca, lambat laun pembacanya akan berkurang. Karena apapun profesi anak manusia, semuanya berhubungan dengan manusia (kemanusiaan). Dan itu mengenai tentang perasaan.

Sebagai penulis abal-abal, penulis amatiran,  sudah semestinya mengubah prinsip menulis. Perbaharui  lagi dalam setiap karya untuk ke depannya. Pembaca selalu menanti karya-karya yang belum pernah dibaca, belum pernah timbul di permukaan bumi. Bukan yang sudah   bertebaran di mana-mana. Jika penulis pemula hanya mengulang tulisan-tulisan yang sudah ada, maka itu sudah basi. Kalau sudah basi, sudah pasti pembaca enggan membacanya.

Begitulah penulis professional itu, selalu menyuguhkan karya-karya dari buah imajinasinya kepada pembaca. Selalu baru, dan itu belum pernah dibaca oleh penduduk bumi. Sebuah karya yang matang untuk dinikmati bagi pembaca yang selalu haus akan pengetahuan, wawasan, dan pemahaman hidup.

Manusia yang satu tidak akan pernah bisa menjadi manusia lainnya. Hal yang sama di dunia kepenulisan, penulis yang satu dengan penulis lainnya tidak sama, dan tak akan pernah bisa sama. Selalu berbeda. Karena latar belakang setiap manusia berbeda-beda, begitu juga dengan penulis.

Karena dari semua itulah, penulis pemula jangan pernah menjadi penulis abal-abal, dan secara tak sadar penulis asal-asalan, hendaknya merenung, eveluasi diri. Timbulkan pertanyaan pada diri sendiri: kenapa karya-karya saya tidak bisa booming? Tidak bisa menarik pembaca yang banyak?

Kalau benar-benar ingin menjadi penulis yang profesional, ingat-ingatlah, selalu ciptakan karya yang baru. Jangan malu terhadap karya sendiri, sebuah karya sepi pembaca bukan berarti karya itu buruk, namun bisa jadi orang-orang tidak mengetahuinya. Tugas penulis bukan sekadar cerdas mengasilkan karya, tapi juga harus cerdas bagaimana menawarkan karyanya agar banyak dibaca orang.

Perbanyaklah mengasilkan karya, lalu dipublikasikan di tengah orang-orang yang ramai. Sekarang sudah dibantu dengan internet, gunakan media sosial untuk memperkenalkan karya kita, juga kirimkan ke media-media online, maupun media cetak. Dengan begitu karya yang dihasilkan mulai akrab di depan umum.

Kalau sudah mulai terkenal, si penulis pun mulai ditunggu-tunggu karya berikutnya oleh pembaca. Dan keuntungan lainnya adalah saat si penulis sudah mempunyai karya yang utuh seperti buku atau novel, pembaca tidak sungkan-sungkan lagi membeli buku atau novel dari penulis yang selama ini ia baca. Jadi, mulai menjelmalah menjadi penulis profesional, bukan betah menjadi penulis abal-abal, atau penulis asal-asalan!

Sumber: Asmara In Jogja

Indra dan Yanti

Pantai Indra Yanti
Foto Pantai Indrayanti/Pulang Syawal | AIJ

Ombak bergemuruh bergulung-gulung menghempas tepian pantai Pulang Syawal, buih putihnya meruak bagaikan soda yang tumpah dari langit. Gemintang kemerlipan di langit gelap, bercahayakan bulan sepasang anak manusia dalam dilema. Matanya sembab, berjam-jam dipaksa air mata duka diperas perasaan.

Indra dan Yanti saling menatap, tak berkata, tak sanggup suara kalimat untuk berbunyi. Indra berkali-kali mendongakkan dagunya pada mega, sementara Yanti hanya mampu sesunggukan menatap pria yang dicintainya.

Indra lembut berujar bersama desauan angin pantai, “Aku sudah nggak tahu harus berbuat apa lagi, jika memang itu pilihan ayahmu, biarlah aku mengalah. Aku akan pergi jauh. Biar kau tenang dengan pilihan ayahmu,” Indra berdiri, ucapnya lagi, “relakan aku. Ikhlaskan cinta kita, biarlah cinta kita kekal bersama samudera ini, di pantai ini. Tak menyatu bukan berarti kehilangan, kau akan selalu ada. Terbenam ke dalam dada.”

“Nggak, Indra, nggak …” suara Yanti serak keluar, tangannya menarik cepat lengan Indra, “kau nggak bisa pergi begitu saja. Aku hanya mencintaimu, aku milikmu. Bawalah aku pergi jauh, kemanapun kau mau. Aku akan setia menjadi istrimu, sekalipun nyawa kita di ujung samudera.”

“Kumohon, Yanti, dengarlah aku sekali ini saja. Sejak dulu sudah kubilang, cinta ini sulit untuk ditempuh. Kemiskinan selalu menyadarkanku, kita sungguh beda, Yanti,” Indra memohon, air matanya menitik deras.

Mendengar ucapan pasrah dari kekasih hatinya,  wajah Yanti semakin merah,  buas menatap bola mata Indra, “Jangan! Jangan kau ucapkan sekali lagi itu padaku, Indra. Dunia akhirat, tak kuizinkan siapapun merampas impian kita. Aku … Yanti, wanita yang paling mencintai dan dicintai bersumpah, apapun yang akan terjadi, aku akan tetap mencintaimu. Selamanya … selamanya.”

Deburan ombak meraung-meraung, ombak tinggi seperti gulungan perbukitan menghempas, angin kencang mendadak dari arah selatan. Kemerlipan bintang sirna seketika, awan tampak menggumpal menelan bulan. Terangnya semakin cepat meredup. Dan gelap seketika.

“Yanti, kenapa  air laut tiba-tiba begini?” tanya Indra penuh keheranan. Lama dipandangi Indra pantai tempatnya bermain sejak anak-anak itu. Bersama teman-teman kecilnya, juga Yanti.

“Sudahlah, Indra! Kau jangan alihkan pembicaraan ini. Aku sungguh serius ingin bersamamu. Ayo bilang, kau akan membawaku pergi! Ayo bilang, Indra! Kumohon,” lutut Yanti jatuh di pasir lembut, genggamannya begitu erat di tangan Indra.

Indra menarik napas begitu dalam, “Oh Tuhan … kau memang keras kepala. Baiklah, kita lalui bersama.”

Mendengar apa yang baru saja diucapkan Indra, senyum sumringah menghiasi gadis perawan yang paling rupawan nan menawan di desa Tepus itu. Tak terkira bahagianya Yanti jika terus bersama pria yang paling dicintainya. Cinta Yanti begitu dalam pada Indra, begitupun dengan Indra. Melebihi dalamnya Samudera Hindia. Tak terukur, tak terhitung, tak bisa dibanding-bandingkan dengan lainnya.

Tanya yanti bernada nakal, “Kau tak akan menghianatiku, kan? Kau akan terus menjagaku, kan? Hmm … apakah besok kita menikah?”

Indra menganggguk membalas senyum. Wajahnya semakin tampan, “Iya, Yanti.”

Sejoli itu kini dibalut kebahagiaan. Harapan yang dinantikan bertahun-tahun oleh Yanti terjawab sudah. Esok mereka segera menikah.

Dan mendadak alam semakin mencekam. Angin begitu kencang merobohkan pohon yang tidak begitu jauh dari Yanti dan Indra. Ombak di lautan pun semakin tinggi. Semakin meninggi, menggunung tinggi. Lalu menggumpal-gumpal menyapu ke pemermukaan pantai.

“Yanti, ayo cepat, kita lari!” Indra berteriak menarik lengan Yanti.

Sekuatnya Indra dan Yanti berlari sambil menghindari pohon-pohon yang tumbang di depan mereka. Naas, Yanti terjatuh, tubuhnya berguling-berguling penuh luka. Tangan dan perutnya tertancap ranting kering dari pohon besar yang tumbang.

“Astaga, Yanti … kau nggak apa-apa?” Indra mengangkat tubuh lemas Yanti, “Kau peluk aku kuat, ya?” Indra menggendong Yanti.

Sejak puluhan tahun lalu, tak pernah pantai Pulang Syawal seperti ini. Namun malam ini, ia punya maksud lain. Entah ada apa? Hanya Tuhan semesta alamlah yang tahu dan berbuat apa saja pada ciptaan-Nya.

Air bergemuruh menaiki darat,  meeratakan apa saja yang menghadangnya. Tak terkecuali makhluk kecil Indra dan Yanti. Sepasang anak manusia yang saling menyayangi dan mencintai itu pun mematung pasrah, saat air laut sudah setinggi pohon kelapa di depan mereka.

“Tuhan … ampuni dosa kami. Restuilah cinta suci ini. Ridhoilah jalinanan kasih sayang ini hingga ke Surga-Mu,” Bibir Yanti bergetar, berdoa pada Tuhan penguasa Bumi. Begitu juga dengan Indra, doa-doa terakhir ia pintakan dalam hati.

Wuiiisshhhhh …. Daratan tepi pantai Pulang Syawal dihempas dengan ombak Samudera Hindia. Hilang daratan, kini berganti lautan. Semua tumpah apa yang ada di laut.   Gemuruh angin mengencang, awan hitam semakin pekat, kilatan menyambar-nyambar warnai langit hitam. Sesekali Guntur menggelegar berbisik pada bumi. Hujan pun turun sederas-derasnya. Paling terderas sejak puluhan tahun silam di Gunung Kidul ini.

Tubuh Indra dan Yanti saling berpelukan. Kuat tangan Indra memeluk Yanti ditengah pusaran air gelombang. Detik-detik … hitungan cepat menghukum sejoli itu. Genggaman Indra terlepas dari tubuh Yanti. Tak ada teriakan, tak ada ucapan perpisahan, hanya senyum tersimpul di wajah mereka dalam gelapnya air yang mengamuk.

“Begitulah kisah cinta Indra dan Yanti,” ucapku. Kaki kami terus melangkah menyisiri tepian pantai Indrayanti.

“Wah … sungguh terharu. Sekalipun akhirnya mereka mati, tapi setidaknya mereka bisa bersatu. Tetap memegang janji dan utuh saling mencintai.” Mata bulatnya menyipit diterpa sinar surya.

Lalu kakinya terhenti di pasir putih lembut saat dijilati ombak kecil yang nakal. Katanya, “Aku jadi ngebayangin Yanti kecil main-main di pantai ini deh. Ah … andaikan saja aku Yanti. Dapat mencintai dan dicintai seperti dirinya. Betapa bahagianya aku. Oh … Indra, kau sosok yang akan kucari terus dalam perjalanan hidupku.”

Aku tersenyum geli melihat senyum aneh di balik pejaman matanya yang bulat itu. Ini adalah tamu yang paling unik kutemukan sejak   menjadi Guide travelling di kota Jogjakarta. Ia datang seorang diri dari Medan. Kota asalku juga. Yah … Kota Medan dengan segala kenangan manis dan pahit yang kutelan.

“Hei, Yenti, ada begitu banyak guied dari kantor. Kenapa kamu pilih aku? Pakai booking jauh hari segala. Hahaha …” tawaku lepas dideru angin pantai.

Kaki putihnya kembali melangkah. Liar berlari seperti anak kecil bermain dengan jernihnya air. Lentik jemarinya mengibaskan ombak kecil di depannya. Sibuk ia merapikan anak rambut yang menutup mata, sebab rambut hitam legamnya terurai diterpa angin.

“Yenti, jangan terlalu di tengah, bahaya! Kamu dengarkan aku!”

Bukan malah ke tepi, ia semakin ke tengah. Mulutnya mengejek ke arahku, lalu tertawa jahat. Ucapnya, “nggak takut, aku ingin menjadi Yanti.”

“Kamu gila! Hahaa … Hari gini percaya gituan,” aku pun menyusulnya. Keselamatan adalah tugas utamaku sebagai guied. Ya, pelayanan kami harus memuaskan setiap tamu. Terlebih aku sendiri dalam prinsip dalam bekerja. Menjadi guide, berarti menjadi orang yang bertanggungjawab penuh terhadap tamu.

“Eh, kamu belum jawab pertanyaanku tadi,” kini aku di sampingnya. Bermain ombak mengikuti kekanakannya.

“Yang mana?” Yenti mendelik, “oh … yang masalah pilihan guide itu.”

Aku mengangguk.

“Karena aku sudah lama mengenal kamu.”

“Hah … kenal aku?” tanyaku heran.

“Iya, aku kan selalu membaca artikel travelling mingguanmu. Nah, satu lagi yang harus kamu tahu,” telunjuk Yenti teracung di depan wajih cantiknya, “aku juga tahu kamu seorang penulis fiksi. Bualan dalam ceritamu itu sungguh membuatku terharu, aku jadi ingin seperti Yanti.” Ia pun tertawa lebar.

Aku pun gelak tawa medengar jawabannya, “sebenarnya, Yenti, aku gerogi menemanimu travelling di Jogja. Ini sungguh-sungguh beda dari biasanya. Sudah ribuan tamu yang kulayani dan kutemani untuk menikmati wisata-wisata yang ada di Jogja ini. Tapi kali ini beda, kamu tamu yang tidak umum seperti lainnya. Nah, karena itu pula biar aku nggak kikuk menemanimu, aku mengarang cerita pantai ini.”

It’s ok, no problem,” Yenti mendesis. Syal merah yang menggantung di lehernya yang berjenjang itu ia lilitkan sekali lagi.

“Kamu tahu, Yenti? Dari segala pantai di Jogjakarta ini, Pantai Indrayanti inilah yang paling kusuka. Menurutku ini adalah pantai yang terindah. Airnya yang jernih, hijau kebiruan, ombakmya yang tenang, lembut dan putih pasirnya, juga bukit yang menjulang tinggi itu. Ini adalah panorama eksotis yang menggairahkanku berimajinasi,” jelasku pada Yenti sambil menunjuk Bukit Karang.

“Ya … ya … aku setuju, ini adalah pantai yang paling indah,” kemudian Yenti ke tepi, mengajakku ke Bukit Karang, “temani aku ke sana.”

Wajah Yenti berubah seperti kerang rebus, memerah. Tenggorokan keringnya disejukkan dengan minuman soda dari tasnya, “ini untuk kamu.”

“Terima kasih, “ jawabku, lalu meneguknya. Serasa segar tenggorokan ini. Tanyaku lagi, “kamu tidak biasa kena panas, ya? Tuh wajah kamu merah banget!”

“Hm … begitu deh,” dihapusnya peluh di dahi, “tinggi juga bukit ini. Huhh ..” Suara Yenti mendesah.

Angin yang sejuk di Bukit Karang melenakan setiap makhluk yang ada di sana. Begitu sejuk, begitu nyaman. Rindang pohon dan indahnya bunga-bungaan di taman-taman kecil ini menyambut kami di atas puncak. Yenti tersenyum, bercampur haru.

“Yenti, sini, Lihat Samudera Hindia!” aku memanggilnya dari tepi bukit.

Lautan maha luas kebiruan. Titik pandangan berakhir di garis kaki langit. Begitu jauh, begitu luas. Tampak perahu nelayan yang sedang berlayar di lautan itu. Di atas lautan, di bawah langit biru bergantung gumpalan awal putih. Nelayan menyabung nyawa mencari rezeki di lautan.

“Betapa beraninya mereka. Wuhh … ngeri-ngeri sedap melihatnya,” puji Yenti seraya bulu kuduknya merinding.

“Sudah biasa, Yen, sejak kecil mereka sudah bermain ombak dan badai lautan. Laut adalah sisi kehidupan mereka yang tak terpisahkan. Bagi mereka laut adalah kehidupan. Bukankah nenek moyang kita adalah pelaut?” mataku teduh menatap matanya yang bulat. Bulu matanya yang lentik itu seakan-akan merayuku. Tak ingin sekalipun untuk berkedip saat mataku mengikat pandangannya.

“Benar juga sih. Ya … ya … nenek kita adalah pelaut.” Ia kepalkan tangannya lalu meninju-ninju ke atas.

Kami terus mengobrol, berbagi cerita satu sama lain. Bersama Yenti di Pantai Indrayanti, bersama Yenti di Bukit Karang. Keindahan semesta yang tertandingi di wajah cantik Yenti adalah penyempurnaan alam yang sesungguhnya. Jangan diceraikan. Oh Tuhan …   anak manusia dari titisan mana yang Kau hadapkan padaku? Ini bukan fiksi yang selama ini kutulis. Ini sungguh nyata, benar-benar nyata.

Senyum Yenti yang mengambang, melukiskan kecintaan langit pada sang awan. Betapa cintanya langit biru, kesempurnaan birunya ia bagikan pada gumpalan awan putih. Dalam pelukannya yang mengambang. Awan putih berarakan bergumpal dalam timangan langit biru.

Mata bulat Yenti yang teduh adalah purnama dalam impian panjang sejoli. Selalu ditungggu, dinantikan dalam malam yang panjang. Api cinta sepasang kekasih itu bergelora menghitung hari   menyambut purnama. Hasrat merengkuh di bawah sinar purnama dalam cinta suci.

Kecantikan wajah Yenti adalah goresan bentuk kesempurnaan makhluk Tuhan satu-satunya. Tak akan dilukiskan lagi oleh-Nya pada makhluk lain. Hanya untuknya, anugerah dari Sang Pencipta.

Yenti dengan segala yang dimilikinya adalah kehidupan dalam kisah cinta Indra dan Yanti. Saling menjaga sejak kecil, mencintai dan dicintai, berjanji sehidup-semati, berani melangkangkah atas nama cinta. Sungguh, Yenti adalah kehidupan.

Mengobrol seru dari   utara sampai selatan, dari ngobrol serius sampai bercanda, hingga hari pun tak terasa bergulir. Langit barat sudah mulai gelap. Keemasan warna langit berpendar menghipnotis makhluk bumi. Tak terkecuali kami. Cahaya lembut sang mentari yang akan dipeluk laut meraba kulit putih Yenti. Kulit putihnya pun ikut keemasan. Ia tersenyum bahagia. Takjub dengan segala yang ada.

“Benar-benar indah. Seumur hidupku, baru kali ini  melihat sunset seindah ini.” Yenti berseru, tak sengaja menggamit lenganku.

Aku mengamininya, tersenyum berujar, “Selama ini aku mengagumi surya yang akan tenggelam di telan laut. Tapi sungguh, kekagumanku direbut ciptaan Tuhan yang lainnya.” Ucapanku terhenti. Diam sejenak, lalu kulanjutkan, “Kalau Yanti dan Indra sejak kecil saling mengenal dan mencintai. Apakah bisa anak-anak manusia lainnya baru saja berjumpa, namun ada perasaan yang sama seperti  Indra dan Yanti?” tatapan serius kutujukan padanya.

Pelan jatuh surya menyisakan semburatnya. Awan keemasan berganti biru kehitaman. Memaksa raja siang tenggelam di garis cakrawala. Ombak pun semakin deras menggulung ke tepian pantai. Dan di langit yang semakin gelap itu, burung bergerombol pulang ke sarangnya,   juga nelayan berpulang dari buruannya menjala. Satu-persatu pengunjung meninggalkan perbukitan dan pasir putih. Satu persatu kesunyian tercipta. Semakin sepi.

“Bukankah sudah kubilang aku ingin menjadi Yanti. Namun aku bukan Yanti yang harus mati, aku ingin hidup bersama orang yang kucintai,” Alis Yenti terangkat. Sambungnya kemudian, “kamu siap menggendongku?”

Seketika gelak tawa kami pecahkan kebisuan alam. Aku tersenyum, ia tersenyum dalam lukisan temaram pantai Indrayanti.

Asmara In Jogja

Serunya Berenang di Air Terjun Curug Sluwog

Curug Slewug
Air Terjun Curug Sluwog

Jalan setapak di tepi perbukitan Menoreh dengan alamnya yang hijau. Ditumbuhi pepohonan yang berdaun rindang mendesis bergesekan tertiup angin sepoi-sepoi, dan rerumputan liar pun tak mau kalah menyeimbangi alamnya. Di sanalah Air Terjun Curug Sluwog, Samigaluh, Kulonprogo, Jogjakarta.

Curug dalam bahasa lokal di sana adalah air terjun. Kita orang luar menyebutkannya Air Terjun Curug Sluwog. Padahal arti dari ucapan yang kita sebut Air Terjun Curug Sluwog itu Air Terjun-Air Terjun Sluwog. Pemborosan bahasa jadinya, Guys! Hehe

Oke, mari dilanjutkan!

Deburan air terjunnya “simfoni” alam bagi setiap pengunjung. Begitu jernih dengan warna kehijauan toska, membuat siapa saja berada di Curug Sluwog segera melompat untuk berenang. Dan kokohnya batu-batu besar menjadi benteng di air terjun yang indah itu, menjadikannya sebagai kesatuan dari Curug Sluwog.

Jika berwisata air, apa lagi yang dilakukan selain berenang? Ya, tempat inilah salah satu alternative penyuka air jika ingin berenang dengan air yang sejuk dan tenang. Airnya yang tidak begitu deras memanjakan bagi siapa saja yang tidak bisa berenang.

Pengunjung di wisata air ini masih tergolong sepi. Namun dengan sepinya wisata inilah menjadikannya incaran bagi kaum traveller yang anti mainstream. Bagi seorang traveller tentu saja sudah ribuan objek wisata dikunjunginya. Keramaian, kepadatan, kebisingan, membuat kaum traveller terkadang bosan dengan wisata yang ramai pengunjung.

Berenang sesuka hati, melompat bebas dari batu besar ke Cerug Sluwog, bukankah itu pengalaman yang sangat seru? Di air yang begitu jernih dan bersih membuat betah berlama-lama bermain di bawah air yang jatuh dari atas bukit. Nah, kalau sudah letih, dan rasa dingin menusuk tulang, cobalah menikmati kopi atau teh hangat dari warung satu-satunya yang ada di sana.

Ditemani secangkir minuman kesukaan berpanorama air terjun, dan duduk nyaman menikmati alam hijau bergemuruh air terjun yang berdebam. Weisshhh … it’s wonderful, Guys! Romantis alam dan manusia namanya. Secangkir kopi, manusia, air terjun, bukit, alam hijau, dengan khas bunyi indah hutan. Kesatuan utuh yang tak bisa lagi dihindari di Cerug Sluwog.

Area yang bersih di lokasi Curug Sluwog, tentu saja bisa disematkan padanya. Nah, saat kami berkunjung ke sana, seorang anak pemilik warung tersebut tampak rajin mengutip sampah dari sisa-sisa makanan dan minuman pengunjung.

Sekadar berbagi, semestinya sebagai traveller selain hanya melegakan tenggorokannya saja saat berwisata, hendaknya juga menjaga kebersihan di setiap lokasi yang dikunjungi. Ini juga untuk kenyamanan bersama, untuk kita, juga alam yang menaungi makhluknya.

Selanjutnya, view yang begitu eksotik membuat para pecandu selfy berkali-kali menjempretkan wajahnya di depan kamera. Tak puas dengan dua atau tiga kali mengabadikan wajahnya di balik kamera. Ya, tentu saja tempat-tempat yang indah selalu menjadi latar belakang bagi kaum “Selfy Ria”. Curug Sluwog “tema” yang patut dijajal Anda suatu hari nanti.

Alamnya Sami Galuh tak diragukan lagi keindahannya. Hijaunya, pohon kelapa yang menjulang tinggi, perbukitan, hawa sejuknya, persawahan yang bertingkat, dan senja kemasan saat Anda pulang meningalkan Curug Sluwog menjadi kenangan wisata yang paling berkesan

Sumber: Asmara In Jogja